Kesedihan adalah sesuatu yang pasti
setiap manusia rasakan, bagaikan siang dan malam yang silih berganti, kesdihan
dan kebahagiaan akan selalu datang silih berganti. Seperti yang telah
difirmankan oleh Sang Pemilik hati di dalam kitabNya yang mulia,
“ Maka sesungguhnya
bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada
kemudahan” {Qs. Al insyirah: 5-6}.
Rabb kita
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengabarkan pada ayat tersebut bahwa
dibalik semua kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan Ia mempertegas hal tersebut.
Dari Jarir
diriwayatkan dari Al Hasan, dia berkata, “ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
pernah keluar rumah pda suatu hari dalam
keadaan riang gembira dan beliau pun dalam kedaan tertawa seraya bersabda, ‘satu
kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan
mengalahkan dua kesulitan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.’”
Seorang penyair
pernah berkata,
“Tidak jarang
musibah itu membuat ssempit gerak pemuda
Dan pada
sisi Allah jalan keluar diperoleh.
Lengkap sudah
penderitaan. Dan ketika kepungannya mendominasi,
Maka terbukalah
jalan, yang sebelumnya ia menduga musibah itu tiada akhir.”
Kesedihan adalah fitrah manusia,
yang telah Allah karuniakan kepada manusia, yang dapat memberikan warna dalam
kehidupan, yang dapat memberikan pelajaran yang berharga.
Tidak peduli mau laki-laki atau
perempuan, tua atau muda, kuat atau lemah, pasti semua pernah merasakan
kesedihan ketika ditimpa musibah yang berat.
Tanpa kita sadari… air mata mengalir
begitu saja, membasahi pipi, melemahkan hati.
Tapi…
menangis bukanlah hal yang memalukan. Ia adalah sebuah tanda bahwa kita masih
memiliki hati, dan hati kita masih berfungsi dengan baik.
Apa jadinya
apabila kita melakukan sebuah maksiat, yang notabenenya adalah sebuah musibah
bagi diri kita sendiri, namun hati kita sama sekali tidak merasa menyesal,
tidak ada air mata penyesalan yang keluar dari mata kita. Jangan sampai kita
termasuk kedalam golongan orang-orang yang Allah sebutkan dalam firmanNya,
“ Dan
janganlah mereka (orang-orang beriman) seperti orang-orang sebelumnya (Yahudi
dan Nasrani) yg mereka telah diturunkan Al kitab, kemudian berlalu atas mereka
masa yang panjang, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara
mereka adalah orang- orang fasiq.” {Qs. Al Hadid :16}.
Bahkan menangis
dapat meringankan beban, melapangkan dada, dan menenangkan hati.
Menangislah…
jika itu memang perlu. Mengangis lah dihadapan Allah, dipelukan orang tua,
disamping pasangan atau sahabat yang dapat mengerti tentang kondisi kita.
Namun yang
terbaik adalah kita hanya mengis, berkeluh kesah hanya dihadapanNya, sebagaimana
yang dilakukan oleh Nabiyullah Yaqub ‘alaihissallam, seperti yang dikisahkan
didalam Al qur’an,
“Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku
mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang
tidak kamu ketahui.” {Qs. Yusuf:86}.
Namun…
jangan terlalu lama kita berda dalam kesedihan, karena masih ada hidup yang
harus dilanjutkan, masih ada cita-cita yang harus dikejar, masih ada
mimpi-mimoi yang masih harus diwujudkan.
Jadi… hapus air matamu.. bangkit… dan mulailah untuk
melangkah sedikit demi sedikit meskipun itu berat.
Dan percayalah bahwa bersama kesulitan itu PASTI ada
kemudahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar