Selasa, 06 Juli 2021

Aku Sedang Sedih

 

            Kesedihan adalah sesuatu yang pasti setiap manusia rasakan, bagaikan siang dan malam yang silih berganti, kesdihan dan kebahagiaan akan selalu datang silih berganti. Seperti yang telah difirmankan oleh Sang Pemilik hati di dalam kitabNya yang mulia,

“ Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”   {Qs. Al insyirah: 5-6}.

Rabb kita Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengabarkan pada ayat tersebut bahwa dibalik semua kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan Ia mempertegas  hal tersebut.

 

Dari Jarir diriwayatkan dari Al Hasan, dia berkata, “ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah  keluar rumah pda suatu hari dalam keadaan riang gembira dan beliau pun dalam kedaan tertawa seraya bersabda, ‘satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kesulitan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.’”

Seorang penyair pernah berkata,

“Tidak jarang musibah itu membuat ssempit gerak pemuda

Dan pada sisi Allah jalan keluar diperoleh.

Lengkap sudah penderitaan. Dan ketika kepungannya mendominasi,

Maka terbukalah jalan, yang sebelumnya ia menduga musibah itu tiada akhir.”

            Kesedihan adalah fitrah manusia, yang telah Allah karuniakan kepada manusia, yang dapat memberikan warna dalam kehidupan, yang dapat memberikan pelajaran yang berharga.

            Tidak peduli mau laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kuat atau lemah, pasti semua pernah merasakan kesedihan ketika ditimpa musibah yang berat.

            Tanpa kita sadari… air mata mengalir begitu saja, membasahi pipi, melemahkan hati.

Tapi… menangis bukanlah hal yang memalukan. Ia adalah sebuah tanda bahwa kita masih memiliki hati, dan hati kita masih berfungsi dengan baik.

 

Apa jadinya apabila kita melakukan sebuah maksiat, yang notabenenya adalah sebuah musibah bagi diri kita sendiri, namun hati kita sama sekali tidak merasa menyesal, tidak ada air mata penyesalan yang keluar dari mata kita. Jangan sampai kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang Allah sebutkan dalam firmanNya,

“ Dan janganlah mereka (orang-orang beriman) seperti orang-orang sebelumnya (Yahudi dan Nasrani) yg mereka telah diturunkan Al kitab, kemudian berlalu atas mereka masa yang panjang, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang- orang  fasiq.” {Qs. Al Hadid :16}.

Bahkan menangis dapat meringankan beban, melapangkan dada, dan menenangkan hati.

Menangislah… jika itu memang perlu. Mengangis lah dihadapan Allah, dipelukan orang tua, disamping pasangan atau sahabat yang dapat mengerti tentang kondisi kita.

Namun yang terbaik adalah kita hanya mengis, berkeluh kesah hanya dihadapanNya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabiyullah Yaqub ‘alaihissallam, seperti yang dikisahkan didalam Al qur’an,

 “Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” {Qs. Yusuf:86}.

 

            Namun… jangan terlalu lama kita berda dalam kesedihan, karena masih ada hidup yang harus dilanjutkan, masih ada cita-cita yang harus dikejar, masih ada mimpi-mimoi yang masih harus diwujudkan.

Jadi… hapus air matamu.. bangkit… dan mulailah untuk melangkah sedikit demi sedikit meskipun itu berat.

Dan percayalah bahwa bersama kesulitan itu PASTI ada kemudahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik ≠ Tidak beradab

Kalau kita lihat dari sejarah, pondok pesantren memang produk sosial-budaya, bukan lembaga yang sakral secara syar‘i.  Ia muncul sebagai ini...