Kamis, 19 Januari 2023

Turunnya Al-Qur’an dan Kitab Samawi Lain




1. Pendahuluan

Allah ta’ala memberikan satu kelebihan kepada umat manusia berupa akal pkiran, agar ia mampu menjalankan tugas dan misinya sebagai khalifah fi al-ard. Juga karena kasih sayang-Nya, kemudian Allah menurunkan wahyu berupa Al-Qur’an melalui jibril kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam untuk dijadikan refernsi dalam kehidupan.1

Al-Qur’an adalah sebuah nama kitab suci yang Allah turunkan kepada salah satu Rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an sebenarnya memiliki banyak nama, namun nama yang paling populer ialah Al-Qur’an, yang merupakan bentuk masdar (infinitif) dari kata qa-ra-na, sehingga kata Al-Qur’an dimengerti oleh setiap oarang sebagai nama Kitab Suci yang mulia.2

Al-Qur’an yang ada seperti sekarang ini tidaklah turun secara sekaligus dalam satu kali pewahyuan. Al-Qur’an dturun secara periodik kapada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini dapat dipahami, karena memang tujan utama diwahyukan firman-Nya adalah untuk memperbaiki umat manusia, baik berupa penjelasan, sanggahan terhadap kaum musyrik, teguran, ancaman, kabar gembira, dan seruan.3

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sumber ajaran Islam dan juga sebagai way of life. Turunnya Al-Qur’an merupakan sebuah peristiwa besar sebagai satu-satunya wahyu yang masih ada sampai dengan saat ini.4

Al-Qur’an tidak semata sebuah kitab suci dari sebuah agama yang di dalamnya hanya berbicara tentang ritual peribadatan saja, namun lebih dari itu, di dalamnya didapati banyak sekali ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kehidupan di dunia bagi mereka yang mampu menelaah dan mempelajarinya.

Turunnya Al-qur’an pun menjadi sebuah momen yang sangat besar, tidak hanya bagi penduduk bumi, namun juga bagi penduduk langit. Turunnya Al-Qur’an juga menjadi pelipur lara bagi Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam serta mengokohkan kaki beliau untuk tetap menapaki jalan kerasulan yang telah diamanatkan kepada beliau shalallahu’alaihi wa sallam.5

Turunnya Al-qur’an pada lailatul qadr merupakan pemberitahuan kepada alam semesta tentang kemuliaan umat Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam, umat yang telah Allah muliakan dengan turunnya risalah ini, agar menjadi umat yang rahmatan lil ‘alamin dan juga menjadi sebaik-baiknya umat manusia.

2. Pengertian Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an adalah peristiwa awal turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfudz ke langit dunia kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap atau tidak diturunkan sekaligus.

Nuzulul Qur’an berasal dari kata Nazzala-yunazzilu-tanzilan dengan makna “turun secara barangsur-angsur” dan kata anzala-yunzilu-inzalan dengan makna “menurunkan” ketika kita menempatkan arti an-nuzul secara bahasa kepada Al-Qur’an maka ditemukan arti-arti tersebut tidak layak untuk disematkan kedalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk majaz.6

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa dalam mengartikan kata nuzul itu tidak perlu meninggalkan makna yang hakiki, yakni berarti turun dan tidak perlu menggunakan arti majasi. Karena kata nuzul dengan arti turun dari tempat yang tinggi itu sudah menjadi kebiasaan orang Arab. Sesuai dengan firman Allah ta’ala:

Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.”(Q.S. Al A’raf: 7: 26).7

Kata nuzul secara bahasa memiliki beberapa makna, diantaranya:

  • انحِطَاطٌ من عُلْوّ8 yaitu turun atau kemerosotan dari sesuatu yang tinggi.

  • التّصيير إلى جهة السّفل 9 yaitu turun atau mendarat ke tempat yang lebih rendah.

Sesuai dengan pengertian nuzul di atas, maka pengertian Nuzulul Qur’an artinya adalah turunnya Al-Qur’an untuk yang pertama kali.10

Dan secara istilah nuzulul Qur’an adalah pemberitahuan Allah tentang Al-Qur’an kepada segenap penghuni langit dan bumi dalam semua segi dan aspeknya.

3. Turunnya Al-qur’an

Al-qur’an pertama kali diturunkan ke langit dunia pada bulan Ramadhan, Allah ta’ala berfirman yang artinya,

Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan didalamnya Al-qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelas dari petunjuk-petunjuk” [Qs. Al-Baqarah: 185].

Al-Qur’an juga di turunkan pada lailatul qadr, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-qur’an) pada malam kemuliaan” [Qs. Al-Qadr: 1].

Telah berkata Ibnu ’Abbas menafsirkan tentang ayat-ayat tersebut, “Al-qur’an diturunkan sekaligus pada lailatul qadr ke langit dunia, kemudian diturunkan secara bertahap.” Kemudian ia membaca ayat, “Dan telah berkata orang-orang kafir, ‘kenapa Al-qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ seperti itulah agar kami mengokohkan hatinya dan membacakannya kepedanya dengan tartil.”11

Al-Qur’an diturunkan melalui dua cara, yaitu:

  • Turun secara sekaligus,

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan didalamnya Al-qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelas dari

petunjuk-petunjuk” [Qs. Al-Baqarah: 185].

Dan dalam firman-Nya,

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-qur’an) pada malam kemuliaan)” [Qs. Al-Qadr: 1].

Dari dua ayat di atas menunjukkan bahwasannya Al-qur’an diturunkan sekaligus pada satu waktu, yaitu pada lailatul qadr pada bulan Ramadhan, namun zhahir ayat tersebut seperti “betentangan” dengan kenyataan yang ada, dimana Al-qur’an diturunkan selama kurun waktu dua puluh tiga tahun masa hidup Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam.

Dalam hal ini ada beberapa pendapat dari para ulama:

  • Pendapat pertama, dari Ibnu ‘Abbas dan sejumlah ulama, kemudian dipegang oleh jumhur ulama, bahwa “yang dimaksud turunnya Al-qur’an pada ayat-ayat di atas ialah turunnya Al-qur’an sekaligus ke Baitul izzah di langit dunia. Selanjutnya ditrunkan kepada Nabi shalallahu’alaihi wa sallam secara bertahap selama dua puluh tiga tahun sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya.”

  • Pendapat kedua, diriwayatkan dari Asy-sya’bi, bahwa yang dimaksud dengan turunnya Al-qur’an pada ayat-ayat di atas adalah pemulaan turunnya Al-qur’an pada lailatul qadar pada bulan Ramadhan, kemudian setelah itu diturunkan secara bertahap sesuai dengan berbagai peristiwa yang mengiringinya selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dengan demikian, Al-qur’an hanya satu kali diturunkan, yaitu turun secara bertahap kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam. Pendapat kedua ini didasari dengan dalil-dalil yang shahih dan dapat diterima, tidaklah bertentangan dengan pendapat yang pertama.12

  • Pendapat ketiga, Al-qur’an diturunkan ke langit dunia pada tiga puluh dua malam kemuliaan, yang pada setiap malamnya Allah tentukan jumlah yang akan diturunkan pada setiap tahunnya. Dan jumlah untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah. Pendapat ini merupakan hasil ijtihad Sebagian mufassirin dan tidak memiliki dalil.

  • Pendapat keempat, Al-qur’an turun petama kali secara berangsur-angsur ke Lauhul mahfuzh, kemudian ia turun dari Lauhul mahfuzh secara serentak ke Baitul izzah, selanjutnya turun sedikit demi sedikit. Demikian berarti Al-qur’an turun dalam tiga tahap.

  • Pendapat yang kuat ialah, Al-qur’an diturunkan dua kali: diturunkan sekaligus ke Baitul izzah di langit dunia, kemudian diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.13

Turunnya Al-qur’an sekaligus berkaitan dengan para penduduk langit, sehingga tidak terdapat kaitan dengan penduduk bumi, sehingga tidak boleh ada pertanyaan tentang tata caranya dan keadaannya, karena hal tersebut merupakan perkara ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah.14

Diantara hikmah diturunkannya Al-qur’an sekaligus adalah sebagai kemuliaan bagi umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena turunnya Al-qur’an dengan cara ini (sekaligus) dan kemudian diturunkan kembali secara bertahap merupakan pembeda dari kitab-kitab sebelumnya.15Dan turunnya Al-Qur’an secara sekaligus merupakan perkara ghaib yang tidak ada ruang untuk berijtihad di dalamnya, sehingga wajib bagi kaum muslimin untuk mengimaninya.16

Imam As-Suyuthi berkata, “dikatakan bahwa rahasia diturunkannya Al-Qur’an sekaligus ke langit dunia adalah untuk memuliakannya dan memuliakan orang yang kepadanya Al-Qur’an diturunkan; memberitahukan kepada penghuni tujuh langit bahwa Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul terakhir demi kemuliaan umat manusia .17

  • Turun secara bertahap

Al-qur’an mulai turun kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pada lailatul qadr pada bulan Ramadhan pada saat umur beliau empat puluh tahun, kemudian diturunkan secara bertahap selama dua puluh tiga tahun.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

Dan Al-qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam; dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah sorang di antara orang-orang yang memberikan peringatan; dengan bhasa Arab yang jelas.” [Qs. Asy-syu’ara: 192-195].

Dan firman-Nya,

Katakanlah (hai Muhammad); Ruhul qududs (Jibril) telah menurunkan al-qur’an dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah. [Qs. An-Nahl: 102].

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Al-qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan oleh Jibril kepada Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam dengan lafaznya yang berbahasa Arab. Jibril telah menurunkannya ke hati Rasulullah, maksudnya ialah menurunkan Al-qur’an secara bertahap.

Allah ta’ala berfirman,

Dan Al-qur’an itu telah Kami turunkan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” [Qs. Al-Israa’: 106].

Maksudnya adalah, Al-qur’an telah diturunkan kepadamu secara bertahap agar kamu membacakannya kepada manusia secara bertahap pula, dan Al-qur’an di turunkan sesuai dengan kejadian dan peristiwa yang mengiringinya.

Al-Qur’an secara keseluruhan diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melalui perantara malaikat Jibril. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ruhulkudus (Jibril) menurunkannya (Al-Qur’an) dari Tuhanmu dengan hak untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah). [Qs. An-Nahl: 102]

Diantara hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap diantara lain:

  • Meneguhkan hati Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, wahyu turun kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan hatinya terhadap kebenaran dan memperkokoh azamnya untuk tetap melangkahkan kakinya di jalan dakwah tanpa memperdulikan perlakuan jahil yang ia dapati dari masyarakatnya sendiri. Sebab apabila wahyu selalu turun dalam setiap peristiwa, maka pengaruhnya dalam hati menjadi semakin kuat, dan orang yang menerimanya mendapat perhatian.18

  • Merupakan tantangan dan mukjizat, Al-Qur’an yang di turunkan secara bertahap merupakan mukjizat yang nyata terlebih lagi bagi kaum kafir, karena kitab-kitab yang datang sebelumnya diturunkan secara sekaligus dan mereka merasa janggal dengan Al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap.

  • Memudahkan hafalan dan pemahamannya, Al-Qur’an ditrunkan di tengah-tengah umat yang ummi atau buta huruf, sehingga sedikit sekali yang mampu membaca dan menulis. Oleh sebab itu, pada zaman itu orang-orang lebih mengandalkan hafalannya dibandingkan dengan tulisan, dan diturunkannnya Al-Qur’an secara bertahap lebih memudahkan dalam menghafal dan memahaminya.

Kadar turunnya Al-Qur’an

Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu , “Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia sekaligus, kemudian ditrunkan ke dunia secara bertahap, tiga ayat, lima ayat, lebih sedikit dari itu atau lebih banyak dari itu.”

Dan berkata Al-Imam Asy-suyuthi, “Al-Qur’an itu diturunkan sesuai dengan kebutuhan, lima ayat atau sepuluh ayat, atau lebih banyak dari itu atau lebih sedikit.”19

4. Turunnya kitab samawi selain Al-Qur’an

Allah ta’ala berfirman yang artinya, Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” {Qs. Al-Furqan: 32}.

Para ulama berpendapat bahwa kitab-kitab lain diturunkan secara sekaligus berdasarkan dari ayat di atas. Ayat di atas merupakan dalil bahwasannya kitab lain diturunkan secara sekaligus sebagai mana pendapat jumhur dari ulama.

Saksi bahasan pada ayat tersebut terdapat pada kalimat, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” dari penggalan ayat tersebut menunjukkan rasa takjub dan aneh dari orang musyrik terhadap turunnya Al-Qur’an secara sekaligus, seakan-akan mereka berkata,”turunkanlah Al-Qur’an itu sekaligus, sebagaimana kitab-kitab sebelumnya”.20

Menurut anggapan orang-orang kafir maupun kaum musyrikin, kitab-kitab yang datang dari Tuhan, lazimnya diturunkan secara sekaligus. Mereka meragukan Alquran sebab diturunkannya dengan cara berbeda dengan penurunan kitab-kitab samawi lainnya. Sehingga mereka mengemukakan pertanyaan: Mengapa Alquran tidak diturunkan sekaligus?

Untuk menjawab pertanyaan mereka, maka Allah ta’ala telah menjelaskan dalam ayat di atas (Q.S.. Al Furqan: 25/32) dimana di jelaskan bahwa salah satu hikmah Alquran diturunkan secara bertahap salah satunya untuk menguatkan hati Nabi dalam menerima dan menyampaikan kalam Allah kepada umat manusia.21

5. Kesimpulan

Mempelajari sejarah dariAl-Qur’an secara umum dan khususnya dalam proses nuzulul Qur’an merupakan bagian penting dalam memahmi kandungan yang ada di dalam Al-Qur’an itu sendiri.

Pengertian nuzulul Qur’an secara istilah adalah peristiwa diturunkannya wahyu Allah (Al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam melalui perantara malaikat Jibril ‘alaihissalam secara bertahap.

Al-Qur’an secara umum diturunkan melalui dua cara yaitu: diturunkan sekaligus dari Lauhul mahfudz ke langit dunia pada Lailatul qadr dan diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam selama kurun waktu kurang-lebih selama dua puluh tiga tahun masa hidup beliau.

Kadar turunnya ayat Al-Qur’an pun berbeda-beda dalam setiap penurunannya, terkadang berjumlah tiga ayat, lima ayat, sepuluh ayat, atau lebih banyak dari itu atau lebih sedikit.

Hikmah dari diturunkannya Al-Qur’an secara sekaligus ke langit dunia adala sebagai bentuk kemuliaan bagi umat Muhammad shalallahu’alaihi wasallam, adapun proses penurunannya secara bertahap merupakan suatu peneguh hati bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga merupakan mukjizat yang membedakan dari kitab-kitab lainnya.

Sebagaimana yan telah dijelaskan bahwasannya Al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap merupakan mukjizat bagi umat ini, maka dapat dipahami bahwasannya kitab-kitab sebelum Al-Qur’an diturunkan kepada umatnya secara sekaligus. Hal ini bisa dilihat dari reaksi orang-orang kafir Quraisy yang merasa aneh ketika mendapati Al-Qur’an diturunkan secara bertahap.


Daftar Pustaka

Drajat, Armoeni. (2017). Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Depok: Kencana.

Dwi Kurniasih,Maulana dkk. (2020). Hikmah Penurunan Al-Qur’an Secara berangsur, 12

Al-qaththan,Manna.(2004). Mabaahits fii ulumil qur’an. (Aunur Rafiq El-Mazni, terjemah). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Chirzin, Muhammad.(1998). Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.

Djalal, Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya: CV Dunia Ilmu.

Al-Ashfahani, Abul Qasim Al-Husain. (1992). Al-mufrodat fii gahribil Qur’an. Beirut: Daarul qalam.

Ibnu Haaim, Ahmad bin Muhammad bin Imaduddin bin Ali. (2002). At-tibyan fii tafsir gharibil qur’an. Beirut: Daarul gharbi al-islami.

Ulfi, Khamr. Ulumul Qur’an-nuzulul Qur’an, 13.

Abu Bakr Al-baihaqi, Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa. (1994). Sunan Al-Baihaqi Al-Qubra. Makkah: Maktabah Daarul Baaz.

Basyir Al-Azdi Al-Bakhli, Abul Hasan Muqaatil bin Sulaiman. (2002). Tafsir Muqaatil bin Sulaiman. Beirut: Daarul Ihya At-taraasti.

Naashir At-thayyar, Musaid bin Sulaiman. (2008). Al-Muharrar fii Ulumil Qur’an. Jeddah: Markaz Diraasaat wal Ma’lumaat Al-Qur’aniyah bi Ma’had Al-Imam Asyatibi.

Syihabuddin, Abul Qasim. (2003). Al-mursyid Al-wajiz ilaa ‘ulumi tata’alluq bil kitab bil ‘aziz. Beirut: Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

Asy-Syuythi, Jalalluddin. (2008). Al-Itqan fi Ulumil Qur’an (Tim editor Indivia, terjemah). Solo: Indivia Media Kreasi.

MS, Abu Bakar. Nuzulul Qur’an; Sebuah Proses Gradualisasi, 231.

Az-Zarqani, Abdul Azim.(1995) Manahilil Irfan fi Ulumil Qur’an. Marocco: Dar Al-kitab Al-’arabiyah.

1Abu Bakar,MS, Nuzulul Qur’an; Sebuah Proses Gradualisasi, hlm.231

2Amroeni Drajat, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, hlm. 27

3Amroeni Drajat, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, hlm. 33-34

4Maulana Dwi Kurniasih, Dyah Ayu Lestari, Ahmad Fauzi, Hikmah Penurunan Al-Qur’an Secara berangsur, hlm. 12

5 Manna Al-qaththan, mabaahits fii ulumil qur’an, hlm. 124

6Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, hlm. 14

7Abdul Djalal, Ulumul Qur’a, hlm.47-48

8Ar-Raghib Al-Ashfahani, kitab al-mufrodat fii garibil qur’an, hlm. 799

9Ibnu Al-Haaim, At-tibyan fii tafsir gariib Al-Qur’an, hlm. 48

10Ulfi Khmr, Ulumul Qur’an-Nuzulul Qur’an, hlm. .3

11 Al-Baihaqi, Sunan Al-Qubra, 4/306

12Abul Hasan Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin sulaiman, 5/266

13 Manna Al-qaththan, Mabaahist fii ulumil qur’an, hlm. 125-130

14 Musa’id bin Sulaiman bin Nashir Ath-thayyar, Almuharrar fii’ulumil qur’an, hlm. 74

15 Abu Al-qassim Syihabbuddin ‘Abdurrahman bin Isma’il bin Ibrahim Al-maqdisi Ad-dimasyqi, Al-mursyid Al-wajiz ilaa ‘ulumi tata’alluq bil kitab bil ‘aziz, hlm. 9

16Musa’id bin sulaiman bin Nashir At-Thayyar, Al-Maharrar fii ‘ulumil Qur’an, hlm.74

17Manna Al-qaththan, Mabaahist fii ‘ulumil qur’an, hlm. 131

18Manna Al-qaththan, Mabaahist fii ‘ulumil qur’an, hlm.134-137

19Jalalluddin asy-suyuthi, Al-Itqan fii ‘ulumil qur’an, 1/282

20Jalalluddin asy-suyuthi, Al-Itqan fii ‘ulumil qur’an, 1/116 , Manna Al-Qaththan, Mabaahist fii ‘ulumil Qur’an, 1/100

21Abdul Azim Az-Zarqani, Manahilil Irfan Fi Ulumil Qur’an, hlm.46

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik ≠ Tidak beradab

Kalau kita lihat dari sejarah, pondok pesantren memang produk sosial-budaya, bukan lembaga yang sakral secara syar‘i.  Ia muncul sebagai ini...